Wanita, alam, dan Sekumpulan Jalan
Aku menatap jalan itu dengan baik, perlahan menyatukan kenangan lama yang kerap kurajut dengan tergesa-gesa. Tentang bagaimana aku mengingat amarah, ego, benci, dan emosi yang semakin membuat air mata menitik dari sela mata. Seharusnya aku tak berkata demikian, seharusnya aku hanya perlu diam setelah semua pedih yang kusimpan dalam-dalam sudah melewati batasnya. Seharusnya aku cukup membesarkan ruang itu lagi, membesarkan botol kaca tipis milikku yang semakin menipis bagai kaca usang yang tak pernah lagi digunakan. Namun aku masih menyesali dengan baik, menatap deru air mata milikmu yang menghujam pipi membuatku perlahan menyadari bahwa aku tak sepatutnya begitu, tak sepatutnya aku menyemburkan amarah itu. Sepatutnya aku hanya meneguk darah itu sendiri, membiarkannya menjelma menjadi kutukan yang mengalir pada nadiku dan menjadi kehidupan itu sendiri. Membiarkan kau menjauh dengan langkah penuh, tanpa menatap ke belakang barangkali hanya melihat diriku yang terpaku walau sed...