1. Tentang Manusia dan Rasa ( Poetry)

 





Kita hanya menjadikan cinta sebagai alasan untuk bersua
Tanpa ada satupun khidmat dalam rasa itu sendiri
Di antara balik pilar-pilar putih
Dan suguhan kopi panas beraroma fajar

Aku hanya mengingat namamu
Baik dalam kalimat yang bermakna atau kata berisi sebuah cerita
Jelas, Kita hanya bermain dalam tawas 
Tak ada yang tersisa untuk sebuah pencudang akhir cerita

Bukan lagi tentang siapa anta atau protagonisnya
Tapi sisa-sisa kecil dari pecahan puing yang kau hancurkan sebegitu sempurna
Menyisakan diriku yang mengais jejak dari ingatan yang tak lagi utuh
Mendengar dengan baik semua cerita manis yang tengah kau teguk sendirian

Aku tak melihatmu sekarang, pun demikian
Aku juga tak tengah memilikimu sekarang, pun demikian
Puisi? Aku hanya merancau dengan bait-bait kata dan makna serapah
Sungguh, Aku seperti tergila-gila oleh dunia, padahal tuhan tahu aku siapa

Dengarlah.
Aku hanya berbisik sedikit tentang kepedihan menjadi sebuah penyair
Aku hanya mengerang sedikit dari kesakitan yang terbalur sempurna dan kau siram dengan darah
Hanya ada sisa nafas yang ter-engap
Hanya ada kisah yang tak lengkap

Pun bagiku,
Pagiku, 
Diriku, 
Serta hati.

Bukan lagi milikmu karena sedari awal sudah hilang, diam, serta membisu.


Berastagi, 1 Oktober 2022



Komentar

Postingan Populer